iklan

close

Tampilkan postingan dengan label Berita Selebriti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Selebriti. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Desember 2017

Syahrini

ANGKASABOLA  ||  Jakarta - Melihat gaya hidup Syahrini yang glamor, sejumlah orang mungkin ada yang penasaran, apa saja barang-barang dalam tas mewah pelantun lagu "Sesuatu" tersebut. Hal ini ia ungkap dalam video terbaru di YouTube chanel pribadinya.
Sama seperti wanita pada umumnya, sebagian besar isi tas Syahrini dipenuhi dengan alat 

rias. Mulai dari lipstick, blush on, parfum, juga aksesories rambut seperti kunciran dan jepitan. Tentunya ada juga barang yang tak boleh ketinggalan, yakni kartu kredit dan uang tunai bernilai jutaan rupiah.



"Yang sebelah sini semua kartu kredit aku. Ada sepuluh. Dan suka dikasih uang tuh segini (tertulis Rp 10 juta)," kata Syahrini sembari memperlihatkan uang dari dalam tasnya.

Uang tersebut wajib dibawa Syahrini setiap hari untuk dibagikan kepada karyawannya yang memiliki jam kerja over time. Mungkin, ini adalah sisi lain yang baru diketahui publik dari sosok Syahrini dalam kesehariannya.

Siram Pakai Uang



"Pasti, ini untuk tips-tips, ini tuh harus ada di dalam tas ini. Kalau di luar negeri ya ada mata uang luar negerinya. Kalau di Indonesia, mata uang Indonesia. Yang suka ngisiin Rani (manajer). Rani pasti tahu, hari-hari kalau kosong diisiin," ungkapnya.

"Nanti untuk sopir kalau begadang, kasih berapa. Satpam depan rumah kasih berapa. Gitulah aku, siram-siram pakai uang. Cameraman kalau lembur juga, aku kasih dia. (Kantong tempat uang) semua dikunci rapat," lanjutnya.

Selasa, 05 Desember 2017


ANGKASABOLA ||  Jakarta - Kuasa Hukum Setya Novanto, Otto Hasibuan mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kedatangannya berkaitan dengan pelimpahan berkas penyidikan kliennya ke jaksa penuntut umum (JPU).
"Intinya penyerahan saja. Penyerahan barbuk dan tersangka," ujar Otto, Rabu (6/12/2017)

Otto terlihat santai menanggapi rampungnya berkas penyidikan Ketua DPR RI itu. Ia mengaku siap menghadapi persidangan pokok perkara e-KTP di Pengadilan Tipikor.
"Saya kira ini kan KPK berhak kalau mau melimpahkan. Memang nanti ada persoalan-persoalan hukum yang akan timbul, tapi itu kan nanti di pengadilan kan," kata dia.
Bila KPK segera menyidangkan kasus Novanto, maka praperadilan yang ia ajukan otomatis gugur. Terkait hal itu, Otto juga menanggapi santai. Ia menyatakan tak bisa menghentikan pelimpahan berkas penyidikan.

"Ini kan baru dilimpahkan ke penuntutan, kan belum dilimpahkan ke pengadilan. Tergantung nanti kapan dilimpahkan ke pengadilannya, intinya itu," kata dia.

Otto sempat berharap agar KPK menghormati proses hukum yang tengah dijalani oleh kliennya, yakni praperadilan. Meski begitu, Otto tak ambil pusing jika praperadilan nanti gugur lantaran berkas Novantomasuk ke Pengadilan Tipikor.

"Kalau sudah dilimpahkan ke pengadilan dan sudah dibacakan dakwaan, menurut pengalaman itu dianggap gugur. Tapi ya tentu masing-masing bisa berbeda. Tergantung putusan hakimnya," kata dia. 

Fredrich Yunadi Berpendapat Lain

Sementara Otto menanggapi santai, berbeda dengan kuasa hukum Novanto lainnya, Fredrich Yunadi. Ia masih belum bisa terima berkas kliennya dinyatakan lengkap dan akan segera disidang.
"Kita mau bicara pada penyidik, kenapa bisa dinyatakan lengkap padahal ada saksi-saki 

(meringankan) yang belum dinyatakan diperiksa. Itu adalah hak dari tersangka sebagaimana pasal 65," kata Fredrich yang datang beberapa menit setelah Otto tiba di Gedung KPK.

Menurut Fredrich, KPK tidak menghargai hak seseorang, termasuk para saksi dan ahli meringankan yang ditentukan oleh pihaknya. Sebab, masih ada beberapa saksi ahli yang belum diperiksa. KPK sudah menyatakan tak akan memanggil ulang saksi dan ahli tersebut.
Selain itu, Fredrich merasa apa yang dilakukan KPK lantaran takut menghadapi praperadilan jilid dua. Mengingat pada praperadilan pertama KPK kalah oleh pihak Setnov.

"Ya karena mereka takut saja. Mereka kebakaran jenggot. Kenapa mereka ketakutan seperti itu, dari sini kan kita bisa lihat. Mereka lakukan segala cara, segala upaya untuk hindari praperadilan," kata Fredrich.

Berbeda dengan Otto yang beranggapan praperadilan gugur jika sidang pokok perkara sudah dimulai di Pengadilan Tipikor, Fredrich justru memiliki anggapan lain. Menurut Fredrich tak ada yang bisa menggugurkan sidang praperadilan.

"Insyallah. Doakan bisa menang (praperadilan). Ya kan karena orang bilang kalau sudah P21 (Pelimpahan berkas, praperadilan) gugur. Yang ngomong siapa? Belajar hukum yang benar," Fredich mengakhiri.