iklan

close

Tampilkan postingan dengan label Berita Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Unik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Desember 2017


ANGAKSABOLA  ||  Jakarta Kemiskinan terkadang menuntut banyak orang untuk bekerja keras. Meskipun kerap kali menghadapi banyak rintangan, apapun kesulitannya pasti akan tetap dilalui agar mendapatkan sejumlah uang untuk menghidupi keluarga.


Postingan facebook Abbey Ann Hernandez pada Rabu (7/12/2017) sempat viral pada masyarakat Filipina. Abbey menuliskan tentang pengalamannya bertemu dengan seorang pria tua yang berjualan es krim.
Abbey saat itu sedang melakukan liburan bersama keluarganya di pantai Matabungkay, Kota Batangas. Tak disangka ia bertemu dengan pria tua itu.


Awalnya Abbey menganggap bahwa pria tua itu hanya orang yang sedang berenang di laut. Pria itu berenang ke arah perahu yang ditumpangi keluarga Abbey bersama dengan kotak yang mengapung di depannya.

Ternyata pria tua tersebut berjualan es krim di tengah-tengah laut. Padahal hasil penjualan es krim tak menghasilkan uang yang tak seberapa. Namun, pria tua tersebut mempertaruhkan nyawanya berenang sambil berjualan di tengah-tengah laut.


Setelah melihat postingan Abbey banyak warganet yang menanggapi kisah pria tua itu dengan berbagai tanggapan. Mulai dari pujian sampai dengan kekaguman dari warganet.

Sampai saat ini banyak orang sedang berusaha menggali informasi dan identitas dari bapak tua tersebut. Tak sedikit warganet di Filipina berusaha melakukan ini untuk membantu bapak tua penjual es krim tersebut serta keluarganya.

Bagaimana menurutmu tentang kejadian ini?
**Ingin berbagi informasi dari dan untuk kita di Citizen6? Caranya bisa dibaca di sini
**Ingin berdiskusi tentang topik-topik menarik lainnya, yuk berbagi di Forum 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Sabtu, 09 Desember 2017


ANGKASABOLA  ||  Tiongkok - Seorang pramugari maskapai penerbangan di Tiongkok, baru-baru ini diskors dari pekerjaannya. Pasalnya, sebuah video yang memperlihatkan dirinya tengah makan makanan sisa penumpang beredar di media sosial.


Dalam video tersebut, pramugari itu terlihat mengambil sedikit sisa makanan dari satu deretan kotak makanan penumpang yang berjejer. Namun tak disangka, ulahnya tersebut malah membuatnya mendapat sanksi.

Melansir Shanghaiist, Jumat (8/12/2017), Umrumqi Air akhirnya menjelaskan bahwa makanan tersebut merupakan sisa makanan dari penerbangan di hari tersebut.
Atas tindakannya tersebut, pramugari itu bahkan kini telah diskors karena tidak mengikuti prosedur penanganan makanan sisa.

Respons warganet

Video tersebut sontak menjadi perbincangan viral warganet. Banyak dari mereka geram dan tak habis pikir bagaimana bisa hanya memakan sedikit sisa makanan penumpang menjadi masalah besar bagi maskapai tersebut.

Namun, adapula warganet yang menyerang orang yang merekam dan menyebarkan video tersebut ke media sosial.

"Dalam peristiwa itu, saya pikir yang paling menjijikan adalah orang yang merekam video tersebut," kata seorang warganet.
Bagaimana menurut Anda?
(Ul)

Kamis, 07 Desember 2017

Lumba-Lumba Langka Ditemukan di Papua Nugini


ANGKASABOLA ||   Port Moresby - Peneliti dari James Cook University dan Universitas Papua Nugini menemukan lumba-lumba snubfin dan lumba-lumba punggung bungkuk (humpback) asal Australia yang hidup di Delta Kikori, di Provinsi Gulf, sebelah barat ibu kota Port Moresby.


Peneliti senior James Cook University, Isabel Beasley, mengatakan bahwa ini adalah satu-satunya penemuan di luar Australia di mana lumba-lumba snubfin langka terlihat. Demikian seperti dikutip dari Australia Plus, Jumat (8/12/2017).

"Sepertinya Delta Kikori merupakan satu-satunya tempat dari seluruh wilayah Papua Nugini dan Kepulauan Pasifik, di mana lumba-lumba snubfin ditemukan," ucap Beasley.
Para peneliti akan menyelidiki apakah penemuan ini menunjukkan mamalia laut mengikuti pola yang sama dengan hewan daratan Australasia dan Asia, yang terpisah oleh Garis Wallace yang terbentang di antara Lombok dan Bali.

"Secara umum, mereka tampaknya bergerak mengikuti Garis Wallace. Selanjutnya akan dilihat pergerakan kelompok hewan tersebut di Kepulauan Indonesia dan Papua, di mana mereka akan melewati batas dan apa motifnya.

Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) mengakui pentingnya penemuan ini, dengan menunjuk aliran sungai itu sebagai Kawasan Penting bagi Mamalia Laut (IMMA).
Kawasan itu juga mencakup bagian Bismark, daerah yang sekarang menjadi bagian dari IMMA untuk target penambangan dasar laut eksperimental.
Beasley mengatakan bahwa aliran Sungai Kikori saat ini membutuhkan perlindungan dan konservasi dari pihak lokal.

"Ini adalah sebuah penemuan besar. Saat ini, sangat penting untuk bekerja sama dengan pemerintah, NGO, dan masyarakat setempat, untuk memastikan bahwa kita dapat melestarikan populasi mamalia laut yang sangat kecil dan terbatas di Delta Kikori," ujarnya.
Penelitian ini didanai oleh Exxon-Mobil, yang mengoperasikan proyek Gas Alam Papua Nugini dan sebagian berada di Propinsi Gulf.

Tim peneliti juga bekerja sama dengan Badan Konservasi dan Perlindungan Lingkungan dan Museum Nasional dan Galeri Seni Papua Nugini.

Tim dari James Cook University mengatakan, pihaknya akan melanjutkan penelitian di Delta Kikori dan memperluas studinya ke daerah Laut Bismark bersama mitra mereka di Papua Nugini.

Tengkorak Korban Tsunami Tertua di Dunia

Penemuan unik lainnya juga ditemukan di Papua Nugini, yakni sebuah tengkorak kuno yang diyakini merupakan milik korban tsunami tertua yang pernah diketahui.

Tengkorak tersebut ditemukan pada 1929, di dekat Kota Aitape. Menurut ilmuwan, tengkorak itu merupakan milik spesies Homo erectus, nenek moyang manusia modern.
Sementara itu, para ilmuwan mengatakan bahwa area tersebut dahulu adalah laguna pesisir yang dihantam tsunami sekitar 6 ribu tahun lalu.

Mereka meyakini, tengkorak itu merupakan milik seseorang yang tewas dalam terjangan gelombang gergasi.

Penemuan itu dilakukan setelah tim internasional membandingkan sedimen dari area tersebut, dengan tanah dari wilayah di dekatnya yang dihantam tsunami mematikan pada 1998.

"Ketika kerangka itu diamati dengan seksama, kita juga memberi perhatian pada sedimen tempat mereka digali," ujar penulis pertama studi tersebut, Profesor James Goff, dari University of New South Wales.